Klinik KPA Belum Miliki Donatur
Klinik KPA Belum Miliki Donatur
laporan : Chairu Dalpen
Gipsifm – Aceh Tamiang : 1 tahun lebih pelayanan kesehatan secara
gratis kepada masyarakat miskin di “Teuming Clinic” terus berjalan, namun selama ini pula klinik yang didirikan oleh Komite Peralihan Aceh (KPA) wilayah Teuming dan simpatisannya di Kabupaten Aceh Tamiang belum miliki donatur tetap untuk pembiayaan operasional kegitan, akibatnya pelayanan kesehatan kepada masyarakat miskin secara gratis menjadi terkendala.
Nurlina bersama anaknya yang baru berumur 5 tahun penduduk Gampong Seunebuk Dalam Kecamatan Bendahara Kabupaten Aceh Tamiang, baru saja memperoleh pelayanan kesehatan dari seorang perawat di clinik yang didirikan oleh sejumlah bekas anggota dan simpatisan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Kabarnya masyarakat mendapat pelayanan kesehatan secara gratis disana.
“ Selama ini saya berobat telah berulang kali kemari, ya layanannya sangat baik, selama saya berobat kesini tidak pernah diminta bayaran hanya ucapan terima kasih kepada ketua klinik yang mengobati saya di sini.” demikian diakui Abdul Ralif, 56, penduduk Gampong Tanjung Seumentoh Kecamatan Karang Baru, usai memperoleh pelayanan kesehatan diklinik tersebut.
Sejak berdiri pada awal tahun 2007, tepatnya pasca banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang, klinik ini masih terus melakukan pelayanan kesehatan secara gratis kepada masyarakat, sesuai dengan kesepakatan bersama para pendirinya. Menurut Idwar Ishak, 37, salah seorang pencetus ide berdirinya “Teuming Clinic” yang terletak 12 kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Aceh Taming ini, klinik berdiri akibat tingginya animo masyarakat yang datang berobat ke posko penanggulangan kesehatan pasca banjir bandang yang didirikan KPA Wilayah Teuming (red-sebelum menjadi klinik), sehingga tercetus keinginan bersama untuk membangun sebuah klinik.
“ Dari pihak petinggi-petinggi KPA memikirkan bahwa perlu adanya sebuah wadah yang disebut dengan klinik, ini juga seiring membantu program pemerintah dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat sesuai dengan amanah “Indonesia Sehat 2010″ atau “Aceh sehat 2010.” kata Idwar Ishak.
Idwar Ishak juga menuturkan betapa bangganya mereka saat itu mendapat dukungan dari Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) terpilih Irwandi Yusuf saat berkunjung pasca banjir, “Pada saat itu beliau belum dilantik. Dari sini kami merasa yakin sekali ini akan menjadi sebuah klinik,karena pada struktur di Komite Peralihan Aceh disana ada yang disebut dengan deputi kesehatan, ini salah satu adalah uraian tugas deputi kesehatan untuk melahirkan sebuah klinik kesehatan.” ujarnya bangga.
Namun sayang, hingga saat ini klinik tersebut belum memiliki donatur tetap akibatnya pihak pengelola mulai merasa kesulitan mendanai operasional kegiatan dan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
“ Untuk donatur tetap saat ini kita belum ada, kita mengharapkan adanya sponsor atau donatur untuk tetap berjalannya kegiatan kemanusiaan ini sehingga program-program kesehatan dan pelaksanaan pelayanan kesehatan kepada masyarakat terus berjalan.” ucap Azhar RM, pengelola Teuming clinic
Menurut Azhar, sulit rasanya untuk mewujudkan apa yang menjadi kesepakatan bersama bila berbagai kegiatan tidak didukung dengan ketersediaan dana, hal yang paling dikuatirkan adalah habisnya ketersediaan stock obat-obatan.
Guna tetap berlangsungnya kegiatan kemanusiaan ini, tentunya klinik yang bernaung dibawah Komite Peralihan Aceh KPA Wilayah Teuming itu tidak dapat tinggal diam, berbagai upaya dilakukan termasuk pengalangan dana dari sejumlah elemen masyarakat dan pemerintah.
Deputi Kesehatan Komite Peralihan Aceh KPA Wilayah Teuming, Fahrul Rozi menyebutkan, hingga saat ini klinik masih dikelola secara swadaya.
“ Ada beberapa bantuan dari kawan-kawan di KPA itu sendiri dan ada donatur-donatur lain, termasuk dari luar KPA juga ada, cuma kami mengajukan beberapa proposal kepada NGO, kepada Pemerintah dan kepada elemen-elemen masyarakat yang mau mendukung program Teuming klinik ini.” tuturnya.
Iya…bantuan yang diperoleh memang tidak seberapa besar, hanya cukup untuk sementara waktu, dalam pelayanannya mereka hanya dapat mengandalkan obat bantuan yang diberikan baik oleh pemerintah daerah maupun elemen masyarakat lainnya. sedangkan untuk biaya operasional keseharian, masih tetap harus ditangulagi secara patungan sesama bekas anggota GAM dan simpatisannya.(*)

Tinggalkan Balasan